Jakarta Kiamat … !!!
Tanggal 9 Juni 2007 pukul 17.00 Gunung Anak Krakatau meletus, letusan yang disertai awan panas dan bebatuan mencapai tinggi hingga 25 km, semburan debu yang menyerupai ledakan bom itu membuat radius 150 km dari pusat letusan tertutup debu, erupsi anak krakatau juga menimbulkan gempa tektonik dan tsunami dengan tinggi gelombang 30 meter. Daerah Lampung, Banten dan Jakarta mengalami kerusakan fatal … sebuah kota mati terjadi, korban hari pertama mencapai 1.5 juta orang meninggal. Seluruh infrastruktur seperti gedung, jalan, jaringan PLN, Telepon mengalami kehancuran..
Dalam kondisi panik, dalam kondisi krisis, dalam kondisi keterbatasan … semua bahu-membahu, melakukan operasi penanggulangan bencana. Gubernur segera melakukan koordinasi dengan satkorlak dan TNI, Bakornas segera mengambil tindakan darurat untuk meminta bantuan UN dan MPAT …
Hari pertama, dengan sisa-sisa SDM yang selamat … membuat posko terpadu …
… beberapa relawan komunikasi RAPI DKI yang selamat segera membuka "Disaster communication" …,
"may day … may day … 10-33.." radiogram-pun disebar pada frekwensi 11.415 MHz, di repeater 143.550, dan frekwensi wilayah yang masih termonitor. Hanya mengandalkan sisa-sisa aki mobil stasiun darurat-pun mengudara untuk memberikan dukungan operasi penanggulangan bencana akibat letusan gunung anak krakatau …….., semua berkolaborasi baik satkorlak, UN dan MPAT serta NGO lain yang mulai bergerak ke DKI Jakarta.
Kira-kira itulah workshop dan lokakarya MPAT (Multinational Planning Augmentation Team) yang dilaksanakan di Hotel Borobudur tanggal 11-15 Juni 2007. Mengambil Sumba room sebagai ruang kendali, puluhan notebook online selama 24 jam, dan koordinasi global semuanya terjadi disana.
Suatu pengalaman yang luar biasa dapat terlibat dalam operasi penanggulangan bencana diatas, MPAT Tempest Express 12 di ikuti oleh ahli-ahli strategi dari Tentara Multinasional, TNI dan POLRI, WHO, UNHCR, UNICEF, OCHA, dan departemen PBB yang lain, NGO serta unsur Satkorlak.
… RAPI mengutus JZ09FQT dan JZ09GOS untuk membackup komunikasi satkorlak, … di ruang komunikasi mereka mengendalikan komunikasi dari satlak-satlak di 5 wilayah, menjadi penghubung antara Bakornas MPAT serta NGO di lapangan. Setiap hari Analisis perkembangan selalu menjadi sarapan pagi, … tidak dapat dibayangkan jika ini benar-benar terjadi.
Untuk RAPI jelas ini menjadi sebuah tantangan …, ketrampilan anggota RAPI dalam set-up stasiun darurat, operating prosedur, distribusi dan dokumentasi berita, kerja sama dengan semua unsur sangat diperlukan. Ini bisa menjadi kurikulum wajib didalam BO … seperti yang di sampaikan oleh Kolonel Tobing .."Kita bekerja, tidur dan mimpi di atas bencana, kita tidak tahu kapan datangnya, tetapi kedatangannya adalah hal yang pasti" …. Jadi untuk mengantisipasi hal itu, persiapan dan latihan mutlak diberikan.
Semoga RAPI dapat turut menjawabnya !


